Archive for May, 2006

16
May

Elang Jawa

Garuda2

GARU’DA

(Baca: Garuk Dah)

            Bukan, ini bukan nama maskapai ataupun merek kacang. Tapi dia adalah Garuda  yang konon berbulu 17 helai pada sayap kanan dan kiri, 8 di ekor dan 45 pada leher. Bulu-bulu ini rupanya berkurang seiring belaian para kekasih. Eits, siapa bilang banyak bulu lebih seksi. Justru semakin rontok semakin dicari. Untuk ukuran burung dengan usia yang lebih dari separuh abad, bulu rontok bukanlah masalah gravitasi. Penyebabnya justru karena banyaknya hormon yang memperbesar kelamin. Kekasih mana yang tidak tergoda dengan kebesaran ini. Sayangnya, rontok

sana

rontok sini juga bisa mengakibatkan penyakit. Gatal-gatal karena debu lah, kepanasan matahari lah dan juga jadi gampang masuk angin. Bagaimanapun juga si burung berkeyakinan kalau penyakit adalah ujian dari Sang Maha Pencipta.

            Di setiap fotonya, Elang Jawa ini selalu menoleh ke kanan. ‘Perfect Angle’, dia bilang pada tukang foto. Kenyataannya dia selalu menoleh kanan-kiri. Bukan waktu menyeberang jalan saja, tapi di manapun dia berada. Hal ini merupakan sikap waspadanya dalam mengendus calon pelanggan bisnis cinta. Dan selanjutnya adalah menyebarkan foto gagahnya, meceritakan (dan kadang menunjukkan) betapa besar barang antiknya, juga mengisahkan makna filosofis tato-tato bintang, banteng, rantai dan sebagainya. Segala daya upaya dilakukan asal hati senang. Tentu saja bedak gatal, sunblock, dan jamu tolak angin harus terus dikonsumsi. Meski tidak menyembuhkan, menyembunyikan adalah solusi tepat. Hasilnya, langganan terus bertambah dan selalu disegani bangsa Aves lainnya.

            Makin banyak langganan, makin banyak pemasukan. Tapi rasa-rasanya kekayaan berlalu begitu saja pada biaya penyembunyian. Yang dulunya hanya berupa gatal-gatal kini berubah menjadi borok besar dengan belatung-belatung sebagai penghuninya. Sunblock, tidak lagi menghalau sinar UV yang jatuh ke atas permukaan yang tidak pantas lagi disebut kulit. Masuk topan, masuk puting beliung, hingga masuk badai semakin menjadi-jadi. Parahnya, banyak pelanggan yang mulai menyadari jika kebesaran kelaminnya tidak bisa menjalankan kewajiban dengan benar. Setelah sekian lama, Garuda mulai sadar jika si penyakit harus diberantas.

            Untungnya masih ada beberapa pelanggan setia yang menawarkan berbagai terapi penyembuhan. Asal Garuda harus mau dikontrak eksklusif. Tidak perlu tanda sayap atau cap kuku segala. Apalagi kelamin tak berteknik itu. Apa manfaatnya bagi mereka. Sebenarnya Cuma satu yang mereka butuhkan agar penyakit Garuda bisa hilang. Mereka hanya minta perisai di dadanya.