Archive for September, 2006

03
Sep

Brothelhood : Pelacur yang Perawan

     Brothelhood_1 Jika ada pelacur yang masih perawan, itulah aku. Sejak umur 13 tahun aku terjun ke dalam bisnis yang kata orang banyak adalah lembah hitam. Bagiku, justru di sini aku menemukan pencerahan akan keadilan Sang Maha Apapun. Awalnya adalah karena tubuh dan bagian tertentu di otakku yang berkembang 10 tahun lebih cepat dari seorang anak perempuan seusiaku. Alasan inilah yang menyebabkan orangtuaku memperbolehkan aku meninggalkan bangku sekolah.

     Kukatakan pada ayah dan ibuku jika aku tidak memiliki seorangpun teman wanita. Mereka cemburu dan iri padaku karena semua mata selalu tertuju padaku, semua pemuda lebih memilih menggoda dan mengejarku, semua guru laki-laki memberiku nilai sempurna untuk setiap kesalahan yang kukerjakan. Teman laki-laki, aku juga tak punya. Bukan karena mereka membenciku, tetapi akulah yang menjauhi mereka. Mata-mata yang penasaran itu selalu mengarah pada dadaku daripada wajahku.

     Orangtuaku percaya dan membuatku tinggal di rumah. Padahal, kenyataannya tidaklah demikian. Alasan sebenarnya adalah karena aku benci sekolah. Aku benci hapalan apalagi menghitung. Aku benci dengan teman-temanku yang sok pintar karena mendapat juara kelas. Aku benci mereka juara karena mereka cuma lebih hapal dari yang lain. Aku benci mendengarkan guru-guru mengulang tulisan yang sudah ada di buku. Aku benci jika mereka menyuruhku mengerjakan soal-soal latihan yang tidak akan pernah kuketahui wujud nyatanya. Dan hal yang paling kubenci adalah membaca buku-buku pelajaran ataupun tulisan di papan tulis yang mebuat pedih mataku.

   Ajaibnya, aku dengan mudah menghapal di luar kepala hanya dengan sekali baca, buku-buku terjemahan dari india yang diberikan seorang guru yang menyukaiku. Karena buku-buku inilah aku memutuskan untuk menjadi pelacur profesional. Semua teknik di dalamnya kuhapal dengan jelas dan tentu saja aku ingin mengamalkannya di dunia nyata.

     Daya khayalku memang lumayan. Hanya dengan mengulang kembali isi dari buku-buku itu di otakku, aku merasakan gejala yang luar biasa. Jantungku berdetak cepat, darahku berdesir-desir dan terasa hangat, mataku berkedip-kedip dan jalan kencingku membuka menutup. Secara pikiran, mungkin aku sudah tidak perawan. Pasalnya, kaset di otakku itu sering dengan sengaja kuputar ulang. Tapi secara perbuatan, aku masih betul-betul perawan. Dan rasa penasaran terus mendorongku, ‘akankah aku menemukan gejala yang sama jika aku betul-betul melakukannya?’

     Meski begitu, hal terburuk terlintas di benakku, bahwa mungkin saja aku tidak bergetar saat aku mengamalkan isi buku itu. Hingga kuputuskan untuk menjadi pelacur pra-bayar agar aku tidak dirugikan. Benar saja, hanya dengan melihat tubuh dan dadaku yang aduhai (kata mereka), calon pelanggan mau membayar kontan dimuka. Selama aku berwirausaha, sudah tak terhitung jumlah uang yang terkumpulkan. Uang ini belum kuapa-apakan. Rencananya, jika sudah terkumpul jutaan dolar, akan kugunakan untuk mengoperasi buah dadaku agar terlihat wajar seperti milik yang lainnya .     

     Dan kenapa aku masih perawan, berikut kuceritakan. Masih ingat bukan bagaimana dadaku? Ya, payudaraku memang berdaya tarik serta berdaya jual. Tanpa mengenakan pakaian ketat atau kerah rendah, mereka tampak menggoda. Ketika kuperlihatkan, semua pelanggan pasti terbelalak. Selanjutnya, mereka selalu muntah-muntah, beberapa kejang-kejang dan tidak sedikit yang menemui ajal. Buah dadaku memang besar dan indah. Sebelah kiri tidak lebih besar dari yang kanan. Hanya saja, aku mempunyai 10 puting pada masing-masing belahannya.