Dulu, aku dan warga sekampungku pernah mati berjamaah. Pasalnya, kami semua keracunan makanan pada hajatan kawinan tetangga depan rumah. Pada saat arwah kami lepas dari badan, kami lumayan terkejut karena menjadi mati tidak serumit yang dikisahkan sinetron-sindetron religi. Tidak ada tuh yang namanya sakaratul maut, mati ya mati saja, biasa biasa saja. Kami juga mati tidak dijemput. Padahal sebenarnya aku penasaran seseram apakah si malaikat maut itu? Ternyata, biasa saja, model orang tidur terus bangun lagi tapi tanpa badan.
Arwah kami, tidak seperti asap tembus pandang ato pun sinar yang melayang-layang, tapi berupa badan lengkap seperti manusia hidup di dunia. Bedanya di alam arwah semuanya berkebalikan dengan yang di dunia. Contoh kecil, yang di dunia tubuhnya pendek disini jadi tinggi, gemuk jadi kurus, kuning langsat jadi sawo matang. Tidak melulu fisik, karakter dan kebiasaan seseorang pun jadi berbalik sama sekali.
Misalnya, sang punya hajat, di alam arwah buka koperasi peminjaman uang, tanpa bunga sama sekali. Dia meminjamkan uangnya untuk para arwah yang ingin menghela hajatan kawinan, sunatan, ulang tahun, selamatan kenaikan pangkat bahkan yang ingin bikin selamatan perceraian. Si anak dan menantu, di sana mereka bikin usaha pegadaian kado perkawinan. Bagi para pasangan pengantin baru yang masih terlilit hutang untuk acara resepsi pernikahan, bisa menggadaikan kado-kadonya di CV ini. Istri si punya hajat, membakari buku tamu undangan juga buku catatan jumlah angpao yang diberikan. Pundi-pundi uang digantinya dengan kotak amal.
Pak Yai samping rumahku yang sudah berkali-kali naik haji waktu di dunia orang hidup, ternyata disini sama sekali tidak pernah sembahyang, tapi dia menutup mata kalo ada wanita lewat di depannya dan sarung beliau tidak lagi berlubang dua, semua dijahit rapat pakai gembok baja anti nuklir segala. Pak Rt yang purnawirawan itu sibuk membayari orang orang yang ingin bikin KTP, KK, Akte dan sejenisnya. Kalo ada pak RW, pak Lurah, pak Camat serta pengede lainnya melintas, pak RT akan mendongakkan kepalanya, malah waktu pak Wali menyapa, pak RT ambil sikap kayang mirip goyangan trio macan.
Aku sendiri, di sana masuk MURA (Museum Rekor Arwah) sebagai warga dengan wajah terburuk dan perangai terjujur.