Kami sepakat mewadahkan bayi kami di rahimnya. Sperma yang membuahi sel telurku kami curi dari bank NASA yang rupa-rupanya buka cabang di Kalitelo, Malang Selatan. Kenyataan bahwa ketidakmampuan lelakiku menghamiliku tidak akan pernah mengusik cinta kami berdua, jika dibandingkan dengan cita-cita mulia untuk menyelamatkan dunia -setidaknya dunia kami berdua. Pemikiran kami sederhana saja, aku yang mengawali, lelakiku yang menengahi. Kesepakatan penuh cinta ini ada karena sejarah kami berdua.
Ibuku adalah surga, dan siapa lagi nerakanya kalau bukan orang yang turut berperan dalam kelahiranku. Neraka itu meninggalkan surgaku bahkan sebelum aku lahir. Sayangnya, surgaku terus mencari neraka-neraka baru yang selamanya adalah neraka jahanam penyebar api kebencian. Hingga kini, aku tidak mau memikirkan apalagi berurusan dengan apinya.
Lelakiku, bukan lelaki sejati. Bahkan dia adalah bukan lelaki sejati yang sejati. Tubuh indahnya bukan sejati. Dulu, dia seperti laki-laki. Dadanya rata, pantatnya rata, pinggulnya rata, bibirnya rata, hidungnya rata, hampir segalanya. Karena demi cinta sejati lamanya, dia mentidakratakan kerataannya. Kini dadanya penuh, pantat dan pinggulnya berisi, bibirnya bak Angelina Jolie. Tapi lelakiku tidak lagi merasakan getaran saat dicium mantan cinta sejatinya. Dadanya tidak bergetar saat diremas-remas. Silikon-silikon di tubuhnya hanya membuat dia mati rasa. Tapi tidak hatinya, buktinya kami bertemu dan jatuh cinta.
Lelakiku orang yang menyenangkan. Kami suka bersenang-senang. Meski kesenangan kami tidak akan membuahkan keturunan. Tetapi lelakiku punya ide yang menurutku sangat menyenangkan. Dia merelakan sel telurku untuk dibuahi sperma curian dan dia lebih rela jika dia yang mengandung pembuahan itu. Menyenangkan bukan?
Sebelum bayi kami lahir, aku dan lelakiku membayangkan jika bayi kami besar maka dia bebas menentukan apakah dia akan seperti orangtuanya, apakah dia ingin seperti orang pada umumnya, atau dia ingin membentuk aliran sendiri. Semua nantinya terserah anak kami. Hanya saja, saat bayi kami lahir, si pemberi hidup memberi kami bonus dobel. Bayi yang seharusnya kami beri nama aphrodite itu, terpaksa kami tambahkan herm di depannya.

wow….