Akhirnya mbak Merlyn terpilih menjadi wali kota Malang Raya tercinta, menyisakan tiga kursi untuk Drs. Peni Suparto, M.AP. Satu kursi dari sang mantu, dan dua lainnya dianggap tidak sah karena tidak ada gambar hologramnya. Tentu saja, dengan terpilihnya wanita (tanpa V) ini menimbulkan pertentangan keras dari tokoh-tokoh agama. “Lebih baik kami dipimpin seorang wanita daripada dipilih wanita jadi-jadian!” “Tuhan pasti mengutuk Malang Raya! Ingat, sewaktu Dorce naik haji, bencana pasti datang!” “Coba Merlyn disuruh kencing, dia berdiri apa jongkok!” Tapi apa mau dikata, lha wong yang milih para wakil rakyat di DPRD. Meskipun mayoritas kursi berhasil direbut oleh partai banteng mulut putih, bukan berarti Pak Peni menang lagi. Gosipnya sih, mbak Merlyn telah memberikan terapi mimpi pada para wakil rakyat ini.
Dengan sedikit ilmu teknik yang diperoleh beliau di bangku kuliah, serta dengan banyak dukungan dari anggota IWAMA, mbak Merlyn menciptakan alat pengatur mimpi basah. Bentuknya berupa kaplet atau kapsul obat sekitar 1 cm berwarna coklat. Wong yang menciptakan para wadam, jadi bentuk persisnya seperti (maaf) Mr. P super mini. Dan cara penggunaannya harus dimasukkan melalui (maaf lagi) anus.
Untungnya para dewan tidak sempat memperhatikan wujud dan cara pemakaian alat ini. Mereka sudah sangat tergiur dengan maanfaat yang ditimbulkan penemuan mutakhir tersebut. Tujuan utama para dewan pasti terkabulkan. Kenapa mereka sampai korban harta agar terpilih, bahkan korban nyawa orang lain untuk berebut kursi, bisa terwujud.
Rakyat sejahtera? Jelas itu bukan tujuan mereka. Terlintas di pikiran saja tidak. Menjadi kaya raya? Seperti yang dipergunjingkan mahasiswa. Ah, tahu apa mahasiswa, kerjanya cuma demo dan demo. Kuliah molor tidak karuan, sementara ortu di desa ngos-ngosan banting tulang. Tujuan sebenar-benarnya yang ada jauh di lubuk hati mereka cuma satu, yakni ‘menaklukkan’ banyak wanita. Memang tidak dipungkiri juga, untuk bisa takluk wanita harus dibutakan dengan kilau harta. Tapi mbak Merlyn berhasil meyakinkan mereka, bahwa berjuta wanita pasti takluk, termasuk urusan (maaf, maaf, maaf) di ranjang.
Suatu malam, para pekerja balai kota ini menjajal alat temuan mbak Merlyn dkk. Dengan ditemani istri, istri ke sekian, selingkuhan, pacar, mahasiswi, siswi ataupun pembantunya (kebetulan ada dewan yang sendirian di rumah), mereka ingin membuktikan kedahsyatan alat ini. Ketika kaplet mungil ini menyentuh bagian bawah belakang tubuhnya, mereka seperti tersengat aliran listrik jutaan volt, darah pun mengalir dengan derasnya ke seluruh bagian tubuh. Para wanita bengong karena mereka sama sekali belum disentuh. Alat tersebut betul-betul menciptakan kenikmatan yang luar biasa hebat, bahkan mengalahkan orgasme mematikan yang menimpa ayah Pandawa Lima.
Meskipun celana menjadi basah tanpa ‘pertempuran’, pengalaman surga ini membawa manfaat yang luar biasa juga. Derasnya aliran darah sewaktu mereka mencapai puncak tertinggi membuat tubuh menjadi sehat, segala penyakit hilang, dan pikiran pun menjadi jernih sejernih-jernihnya. Hingga terpilihlah Sdr(i) Merlyn Sopjan sebagai Wali Kota Malang Raya.
Bersama-sama mbak Merlyn, para dewan membangun kota Malang. MATOS, mall di stadion Gajayana, Rampal, ruko-ruko dan beberapa perumahan mewah dibangun kembali. Hutan-hutan beton itu kini menjadi hutan kota seperti hutan Malabar. Dan Malang Raya tidak akan pernah basah seperti Jakarta.
“Betapa indah gemilang,
Kota Malang,
Kota di datar tinggi,
Sejuk menatik hati,…” sayup-sayup para banci bernyanyi.
0 Responses to “Merlyn Sopjan: Pengatur Mimpi (…Basah)”
Leave a Reply