Selalu saja terjadi pembicaraan panjang tanpa kata-kata saat pandangan kita beradu. Tidak, aku tidak malu jika mataku lebih dulu memandangmu. Dan kau pasti tahu aku tidak pernah merasa lebih tinggi jika kau telebih dulu memandangku. Aku sangat senang saat kita berdekatan dan saling melempar pandang. Jika mulutku mengatakan "Diamput! bayaran gak mundak-mundak", aku yakin jika kau bisa merasakan kelembutan pancaran mataku dan memahami betapa aku menyukai bola matamu yang hitam semu kecoklatan. Warna matamu tidak begitu jernih, bahkan sedikit menguning. Pasti kamu gemar bermain-main dengan air Belanda. Biar begitu, aku suka memandanginya. Mulutmu lantas berbicara "Taek! awak kongkon mbadhok taek!" Ha…ha…ha… dalam hati aku tertawa, matamu lebih jujur daripada mulutmu. Aku tahu bahwa keduanya mencoba menembus ruang di jiwaku hingga kemudian membuatnya hangat.
Mulut kita suka berbicara yang pendek-pendek saja. Semakin hari, mereka sering mengucapkan kata-kata kotor, makian, kutukan dan segala hal yang memang pantas untuk menggambarkan sekitar kita. Tidak dengan mata kita, mataku atau matamu selalu bertegur sapa dengan sanak. Andai empat bola mata kita bisa melompat, pasti mereka sudah melompat dari rongganya, berpelukan, berbagi kasih dan betapa bersyukurnya mereka karena tidak perlu dikasih makan seperti mulut, atau harus terangsang oleh bau layaknya hidung hingga perut menjadi lapar. Kalaupun suatu saat nanti harga makanan lebih mahal daripada harga nyawa manusia, mata-mata kita tidak perlu tersiksa. Ya, paling-paling berair (kalau masih ada sumbernya sih).