Archive for April, 2007

23
Apr

Tulang Rusuk

Rib_cage Tulang Rusuk "Kamu itu tulang rusukku, nduk", Joko mendesah di telinga Ningsih sambil membelai rambut kekasihnya yang panjang sepantat. Yang dirayu mesam-mesem, pipi bersemu merah, tubuh serasa melayang, tapi sayang mentok di atap rumbai warung remang-remang. "Masak sih mas?" kata Ningsih manja, padahal dia kurang paham apa yang baru saja dibisikkan Joko. Bukan masalah kata-katanya, yang penting hawa hangat yang terhembus ke telinganya atau aroma asmara darinya, pikir Ningsih, meskipun sedikit tercampur bau sambal terasi lalap petai kesukaan mereka berdua. "Iyahhhhhhh", desahan Joko makin kuat. Sebenarnya hidung Ningsih sudah protes, tetapi dorongan lain di otaknya menghalau rangsangan khas kamar mandi umum pasar tradisional itu. "Nduk tahu tulang rusuk khan?" Ningsih menggeleng tambah manja. Jika janggut Ningsih adalah pensil, di depan muka Ningsih ada angka delapan tidur yang ditulis berulang-ulang. Joko meraih tangan Ningsih ke dadanya dan merabakan tulang rusuknya. "Wah!" Ningsih pura-pura kaget, "Aku kok tidak punya mas?" "Bahaya Nduk, coba sini mas periksa" jhdaugbvmcbzjcgisugd nskczsjcvsbjdkaf gfbasfashbfasfaigfabfkaohyfaba khdfyabfkhasfyadfblctz (Mohon ma’af, terjadi gangguan transmisi dari pusat).

"KAMU ITU TULANG RUSUKKU!!!" bentak Joko pada Ningsih. Ningsih menunduk saja. Sebenarnya ingin dia membalas teriakan Joko yang menggedor gendang telinganya. "LETAKMU ITU DI SINI !!!" Joko berkacak pinggang, kurang atas sih, kalau berkacak dada ketinggian, yah turun sedikit lah. "Tuhan itu Maha Adil Ning!!!" Volume suara Joko sudah mulai mereda "Makanya kamu diciptakan dari sini" Joko menepuk dadanya, turun dikit, tahu sendiri khan. "Untung kamu nggak diciptakan dari sini" kali ini pantatnya ditepok, tidak perlu membayangkan Beyonce yang melakukan. "Atau dari sini" jidat Joko yang makin lebar akibat kebotakan dini ditunjuk-tunjuk. "Tapi kamu kurang ajar Ning. Kamu lupa asal-usulmu?" Naik-turunnya dada (betul-betul bagian yang ada dibawah leher) Joko mulai berirama stakato. "Ma’af mas, Ningsih cuma kerja" "Eh, Eh, Eh, JaNgAn KeRjA kAu JaDiKaN aLASAN!!" suara Joko medekati falseto. "Kamu boleh jadi tukang setrika apa saja, tapi tIdAK uNtUk ITU!!!" Joko menunjuk segitiga pengaman pria warna coklat tua dengan tulisan SONY SONY SONY SONY SONY SONY SONY di sekeliling karet kolornya. "Ingat Ning!" Joko kembali menepuk-nepuk dada sedikit ke bawahnya, masih ingat khan posisi persisnya?

"Kamu khan tulang rusukku," Hik, hik, hik, hik, hik, hik, kata-kata Joko melebur dalam derai tangis Ningsih. Nyaris tak terdengar. "Ningsih pulang saja mas!" "Jangan dong Ning, apa nanti kata si mbok dan pak’e." "Biar mas, kalau begini Ningsih tidak tahan!" "Yang namanya tulang rusuk itu ya harus mendampingi dong Ning." Hik, hik, hik, hik, hik,tangis Ningsih makin keras. Joko merangkul pundak Ningsih "Ya sudah, Mas minta ma’af. Mas khilaf." Huwaaaaaaaaaaaaaaa "Mana ada khilaf buntutnya lima" hu hu hu hu hu hu hu. "Mau gimana lagi Ning, tapi ambil hikmahnya, Tole pasti suka punya teman main bola" "Pokoknya aku pulang!" "Di sini saja, mau diapa-apain kamu itu tetap tulang rusukku." "Tulang rusuk! Tulang rusuk! Tulang rusuk! Lantas Paitun, Munah sama Ginten itu tulang-belulang apamu?!" "Ah, Ningsih, masa kamu lupa pas kita pacaran dulu. Coba ingat-ingat waktu kamu meraba-raba dadaku" Disambarnya tangan Ningsih yang gosong-gosong kena setrika ke dada Joko, "Tulang rusukku khan nggak cuma satu."