KUMIS TITA
(Kumis Sakti Wanita)
Nama grup band beranggotakan tiga perjaka 25-an itu adalah
M3Nagerie. “Kenapa M3Nagerie, karena kami adalah tiga lelaki liar yang dipertontonkan.”
sang vokalis yang merangkap juga sebagai gitaris menjawab ketika ditanya tentang
ihwal nama band mereka. Album pertama mereka mendapat penghargaan Penta
Platinum. Belum lagi yang dibajak dan diupload lewat internet secara ilegal
oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab pada diri sendiri dan Tuhan YME. “Ah,
tidak apa-apa, pembajakan hanyalah Yang dari Ying kami. Bagi-bagi rejeki tidak
ada salahnya. Tapi kami tidak menyarankan anda melakukan pembajakan lho.” Lagi-lagi vokalis menjawab. “Genre
musik kami adalah, hmm…. apa ya?” Kini vokalis melempar jawabannya untuk
diteruskan sang pembetot bas. “M3Nagerian!” jawab lelaki botak itu mantap.
“Musiknya M3Nagerie adalah M3Nagerian”. Penggebuk drum menambahkan “Betul. Kami
menyebut musik kami sama persis dengan nama penggemar kami. M3Nagerian!”
Seperti apa musik M3Nagerian itu? Apakah seliar makna dari
kata menagerie itu sendiri? Salah besar. Musik mereka S-T-A-N-D-A-R alias biasa
saja. Sedikit berbau rock. Tetapi bagi para M3Nagerian yang terdiri dari
gadis-gadis dan ibu-ibu beserta anak-anaknya -yang memuja tampang dan
gaya
busana para personelnya
yang menurut mereka liar-liar menggemaskan-, musik mereka sangat mengguncang.
“Kami tidak mau berbicara banyak tentang para senior yang merendahkan musik
kami, yang penting kami sudah membuktikan.” kata si basis. “Kami juga tidak mau
ambil pusing kalau M3Nagerie dianggap pasaran. Mau apa kalau pasar memang
menyukai kami.”
Peluncuran album kedua yang hanya berjarak 6 bulan dari
pendahulunya disambut baik oleh para M3Nagerian. Sepertinya, produser akan
memberikan Dasa Platinum kali ini. M3Nagerie memberikan kejutan bagi
penggemarnya. Terlalu mengejutkan sehingga kuping mereka tidak bisa lagi
menikmati. Mereka masih menginginkan sesuatu yang standar, sesuatu yang biasa
saja. Meskipun penjualan kaset laris manis, konser M3Nagerie selalu dibatalkan
karena tiket tidak laku sama sekali. Tim managemen, crew, dan setiap orang yang
berada di belakang panggung M3Nagerie mulai meninggalkan mata pencahariannya.
Para
personel stres berat karena ditinggal pasar. Tiada
lagi tampang liar-liar menggemaskan.
“Aku kecewa pada penggemar kita, tapi aku sangat menikmati
musik kita yang sekarang.” sang drummer membuka suara saat pertemuan ketiga
personel ini di suatu tempat. Hanya bertiga, tanpa crew, tanpa wartawan sama
sekali. “Setiap aku memainkan lagu-lagu album kedua ini, diulang berapa kali
pun aku tidak akan bosan. Seperti ada jiwa baru di saat kita memainkannya.” basis
menimpali. “Persis, aku serasa bernyanyi.” tutur vokalis. “Bukan seperti robot yang
memainkan berulang-ulang album pertama kita. Padahal album pertama adalah murni
ciptaan kita sendiri, tapi kenapa aku dan mungkin kalian juga lebih menjiwai
yang ini.”
“Jadi, lirik-lirik lagu album kedua ini bukan kamu yang
menciptakan?” Basis bertanya pada vokalis. “Tentu saja bukan, lagi pula
musiknya juga bukan kalian yang mengaransemen.” “Betul, bukan kami yang
menciptakan.” Si Drummer mengamini. “Kalau begitu, darimana kalian mendapatkan
alunan yang liar dan menghanyutkan itu?” tanya vokalis. “Tita!” basis dan
drummer menjawab bersamaan. “Tita gadis menikur di salon langganan kita itu?”
vokalis bertanya dengan nada tak percaya. Basis dan Drummer mengangguk
bersamaan lagi. “Sama, aku juga mendapat inspirasi lirik dan melodi dari
kata-kata gadis itu.” vokalis berkata dengan semangat. “Kalian merasa tidak, kalau
beberapa bulan ini aku hampir tiap hari menikur?” “Kami juga hampir setiap hari
menikur. Betul
kan
?”
Drummer bertanya pada basis “Iya, selain tangan kita mudah kapalan gara-gara
lagu-lagu yang makin liar, menikur setiap hari tidak hanya menghaluskan kembali
tangan kita, tetapi inspirasi-inspirasi liar dari Tita terus berdatangan.”
Basis menjelaskan. “Padahal Tita itu sama sekali tidak cantik dan seksi. Tapi
kenapa dia bisa membangkitkan imajinasi liar kita?” Drummer bertanya pada
semuanya. “Aku tahu!” vokalis menjawab. “Bibirnya! bibirnya yang tidak terlalu
tipis dan tidak terlalu tebal itu seperti menghipnotis.” “Tidak juga, aku
pernah dengan sengaja mencuri ciuman darinya dan tidak terjadi apa-apa.”
jawaban basis membuat mata si vokalis dan drummer terbelalak. “Kupikir, kumis
tipis di atas bibirnya itu yang berdaya magis.” basis melanjutkan. “Wah! Kamu
benar, aku ternyata baru sadar. Kumis tipisnya itu inspiratif.” ujar vokalis.
Setelah menyadari kumis Tita yang magis, setiap hari
personel M3Nagerie tidak lagi mendatangi salon langganan mereka untuk menikur.
Tetapi mereka mengontrak ekslusif Tita. Mereka tidak lagi perduli kemauan
pasar, yang penting mereka bisa memainkan musik-musik liar yang menyejukkan
hati mereka. Album ketiga tidak akan pernah diproduksi. Tetapi M3Nagerian yang
sesungguhnya selalu menanti penampilan band ini.
Para
lelaki berkumis dari segala usia dan status sosial selalu membanjiri
konser-konser M3Nagerie. Sedangkan Tita, gadis ini tidak hanya menjadi
menikuris saat tangan para personel M3Nagerie kapalan, dia juga merangkap
sebagai manager, produser, music engineer dan bekerja total di balik layar
M3Nagerie. Konon, Tita berniat menggondrongkan kumisnya untuk memenuhi
permintaan M3Nagerie agar dia mau menjadi maskot band itu.
