Bumipala Sang Body Double Terpilih
Kuperhatikan sekeliling ruang
tunggu, dari 4 deret kursi yang berjajar, hanya ada seorang gadis yang duduk
membelakangiku. Rambutnya yang hitam pekat tergerai sebagian ke sandaran kursi.
Aku berjalan mendekati, kulit bahunya yang terbuka memantulkan cahaya lampu
neon di atasnya. Ketika berada di deret kursi yang diduduki gadis itu,
tampaklah di mataku sebuah tubuh padat berisi, tidak kurus, tidak gemuk,
dibalut kemben rimpel warna krem dua tingkat lebih muda dari warna kulitnya
yang coklat. Sepatu buts sepanjang lutut disilangkan, mungkin begitu seharusnya
dia duduk, mengingat rok mini jins yang dikenakannya. “Bumipala?” Namanya
kusebut dan gadis itu sontak berdiri. Tingginya melebihi diriku. Wajahku pas
menatap dadanya yang bidang dan penuh. Sempurna
pikirku. Aku mendongak memandang wajahnya dan hmpphhhhhhh.
Rasanya nasi pecel yang kumakan
tadi pagi tercekat di tenggorokanku dan ingin dikeluarkan. Aku memalingkan
muka, “Panggil saja Bumi” tangan yang terpahat indah disodorkan kepadaku.
Sekilas kupandang wajahnya, tetapi lagi-lagi adonan nasi pecel tadi
mendorong-dorong keluar dan hmmpphhhh, berhasil kutahan. Kalau kamu demam panggung, jangan lihat mata penonton, lihat atas kepala mereka. Suara pelatih
akting terngiang di kepalaku. Aku lebih mendongakkan kepala, tapi tetap saja
wajah gadis itu terlihat jelas. Sambil setengah mual aku menjabat tangannya.
“Silahkan ikuti saya.”
Sesampainya di kantorku, kami duduk
berhadapan. Kupandang saja dadanya alih-alih wajahnya, sebenarnya hal ini belum
pernah kulakukan sebelumnya dan pasti terlihat tidak sopan. Tetapi biarlah,
memandang bagian lain tubuhnya bisa menetralkan pikiran burukku saat memandang
wajahnya. Toh berita bahwa produser meniduri aktris, perancang meniduri
peragawan, atasan meniduri bawahan, sudah menjadi hal umum dan wajar. Lagipula
aku tidak meniduri, hanya memandang tubuhnya saja, dan ini pun kulakukan bukan
karena aku laki-laki kurang ajar, tetapi karena wajahnya yang hmmpphhhh –
sepertinya ada tauge yang berhasil mendesak sampai ke pangkal lidahku.
Aku berpura-pura membuka map,
“Saudari Bumi kami terima sebagai pemeran utama. Bakat anda luar biasa. Tubuh
anda persis sempurna seperti yang diinginkan sutradara,” kutelan kembali bumbu
kacang campur jeruk purut yang tak mampu tertahan “Tetapi harus saudari ketahui
bahwa wajah anda …,” hmmphhhh aku tidak tahan lagi. Aku berlari ke kamar kecil
dan memuntahkan semua sarapan pagiku. Aku
harus bertindak profesional, aku adalah cast coordinator terbaik di negri ini,
aku harus bekerja pro. Kumantrai diriku sendiri. Kukumpulkan segala tenaga
menatap wajahnya, “Bumi, wajah anda terpaksa kami ganti dengan aktris berwajah
blasteran” “
Ada
apa dengan wajah saya? mestinya Bapak tahu dari CV kalau saya dulu adalah gadis
sampul, finalis wajah majalah wanita dan kalau bukan karena peran ini, pasti
saya sudah terpilih menjadi Putri
Indonesia
.” Tersinggung dia
menjawab. “Maaf, saudari. Ini adalah tuntutan produser dan pasar. Mungkin saja
anda, sebagian orang di negri ini, dan saya pribadi menganggap wajah anda
cantik. Tapi wajah anda itu,” hueeeeek kali ini darah yang kumuntahkan “wajah
anda terlalu Indonesia,” hmmphhhh kucoba menahan, “kalau melihat wajah anda”
hueeek kembali gumpalan darah kumuntahkan “penonton pasti jadi ingat Indonesia
yang ….” huuueeeeeeeekkkk.
(Makasih buat Marynie
yg udah ngingetin)
