Archive Page 2

16
Nov

Waktu Aku Pernah Mati (Bukan Hidayah atau Rahasia Illahi)

LadylucDulu, aku dan warga sekampungku pernah mati berjamaah. Pasalnya, kami semua keracunan makanan pada hajatan kawinan tetangga depan rumah. Pada saat arwah kami lepas dari badan, kami lumayan terkejut karena menjadi mati tidak serumit yang dikisahkan sinetron-sindetron religi. Tidak ada tuh yang namanya sakaratul maut, mati ya mati saja, biasa biasa saja. Kami juga mati tidak dijemput. Padahal sebenarnya aku penasaran seseram  apakah si malaikat maut itu? Ternyata, biasa saja, model orang tidur terus bangun lagi tapi tanpa badan.

Arwah kami, tidak seperti asap tembus pandang ato pun sinar yang melayang-layang, tapi berupa badan lengkap seperti manusia hidup di dunia. Bedanya di alam arwah semuanya berkebalikan dengan yang di dunia. Contoh kecil, yang di dunia tubuhnya pendek disini jadi tinggi, gemuk jadi kurus, kuning langsat jadi sawo matang. Tidak melulu fisik, karakter dan kebiasaan seseorang pun jadi berbalik sama sekali.

Misalnya, sang punya hajat, di alam arwah buka koperasi peminjaman uang, tanpa bunga sama sekali. Dia meminjamkan uangnya untuk para arwah yang ingin menghela hajatan kawinan, sunatan, ulang tahun, selamatan kenaikan pangkat bahkan yang ingin bikin selamatan perceraian. Si anak dan menantu, di sana mereka bikin usaha pegadaian kado perkawinan. Bagi para pasangan pengantin baru yang masih terlilit hutang untuk acara resepsi pernikahan, bisa menggadaikan kado-kadonya di CV ini. Istri si punya hajat, membakari buku tamu undangan juga buku catatan jumlah angpao yang diberikan. Pundi-pundi uang digantinya dengan kotak amal.

Pak Yai samping rumahku yang sudah berkali-kali naik haji waktu di dunia orang hidup, ternyata disini sama sekali tidak pernah sembahyang, tapi dia menutup mata kalo ada wanita lewat di depannya dan sarung beliau tidak lagi berlubang dua, semua dijahit rapat pakai gembok baja anti nuklir segala. Pak Rt yang purnawirawan itu sibuk membayari orang orang yang ingin bikin KTP, KK, Akte dan sejenisnya. Kalo ada pak RW, pak Lurah, pak Camat serta pengede lainnya melintas, pak RT akan mendongakkan kepalanya, malah waktu pak Wali menyapa, pak RT ambil sikap kayang mirip goyangan trio macan.

Aku sendiri, di sana masuk MURA (Museum Rekor Arwah) sebagai warga dengan wajah terburuk dan perangai terjujur.

03
Sep

Brothelhood : Pelacur yang Perawan

     Brothelhood_1 Jika ada pelacur yang masih perawan, itulah aku. Sejak umur 13 tahun aku terjun ke dalam bisnis yang kata orang banyak adalah lembah hitam. Bagiku, justru di sini aku menemukan pencerahan akan keadilan Sang Maha Apapun. Awalnya adalah karena tubuh dan bagian tertentu di otakku yang berkembang 10 tahun lebih cepat dari seorang anak perempuan seusiaku. Alasan inilah yang menyebabkan orangtuaku memperbolehkan aku meninggalkan bangku sekolah.

     Kukatakan pada ayah dan ibuku jika aku tidak memiliki seorangpun teman wanita. Mereka cemburu dan iri padaku karena semua mata selalu tertuju padaku, semua pemuda lebih memilih menggoda dan mengejarku, semua guru laki-laki memberiku nilai sempurna untuk setiap kesalahan yang kukerjakan. Teman laki-laki, aku juga tak punya. Bukan karena mereka membenciku, tetapi akulah yang menjauhi mereka. Mata-mata yang penasaran itu selalu mengarah pada dadaku daripada wajahku.

     Orangtuaku percaya dan membuatku tinggal di rumah. Padahal, kenyataannya tidaklah demikian. Alasan sebenarnya adalah karena aku benci sekolah. Aku benci hapalan apalagi menghitung. Aku benci dengan teman-temanku yang sok pintar karena mendapat juara kelas. Aku benci mereka juara karena mereka cuma lebih hapal dari yang lain. Aku benci mendengarkan guru-guru mengulang tulisan yang sudah ada di buku. Aku benci jika mereka menyuruhku mengerjakan soal-soal latihan yang tidak akan pernah kuketahui wujud nyatanya. Dan hal yang paling kubenci adalah membaca buku-buku pelajaran ataupun tulisan di papan tulis yang mebuat pedih mataku.

   Ajaibnya, aku dengan mudah menghapal di luar kepala hanya dengan sekali baca, buku-buku terjemahan dari india yang diberikan seorang guru yang menyukaiku. Karena buku-buku inilah aku memutuskan untuk menjadi pelacur profesional. Semua teknik di dalamnya kuhapal dengan jelas dan tentu saja aku ingin mengamalkannya di dunia nyata.

     Daya khayalku memang lumayan. Hanya dengan mengulang kembali isi dari buku-buku itu di otakku, aku merasakan gejala yang luar biasa. Jantungku berdetak cepat, darahku berdesir-desir dan terasa hangat, mataku berkedip-kedip dan jalan kencingku membuka menutup. Secara pikiran, mungkin aku sudah tidak perawan. Pasalnya, kaset di otakku itu sering dengan sengaja kuputar ulang. Tapi secara perbuatan, aku masih betul-betul perawan. Dan rasa penasaran terus mendorongku, ‘akankah aku menemukan gejala yang sama jika aku betul-betul melakukannya?’

     Meski begitu, hal terburuk terlintas di benakku, bahwa mungkin saja aku tidak bergetar saat aku mengamalkan isi buku itu. Hingga kuputuskan untuk menjadi pelacur pra-bayar agar aku tidak dirugikan. Benar saja, hanya dengan melihat tubuh dan dadaku yang aduhai (kata mereka), calon pelanggan mau membayar kontan dimuka. Selama aku berwirausaha, sudah tak terhitung jumlah uang yang terkumpulkan. Uang ini belum kuapa-apakan. Rencananya, jika sudah terkumpul jutaan dolar, akan kugunakan untuk mengoperasi buah dadaku agar terlihat wajar seperti milik yang lainnya .     

     Dan kenapa aku masih perawan, berikut kuceritakan. Masih ingat bukan bagaimana dadaku? Ya, payudaraku memang berdaya tarik serta berdaya jual. Tanpa mengenakan pakaian ketat atau kerah rendah, mereka tampak menggoda. Ketika kuperlihatkan, semua pelanggan pasti terbelalak. Selanjutnya, mereka selalu muntah-muntah, beberapa kejang-kejang dan tidak sedikit yang menemui ajal. Buah dadaku memang besar dan indah. Sebelah kiri tidak lebih besar dari yang kanan. Hanya saja, aku mempunyai 10 puting pada masing-masing belahannya.

    

02
Aug

PERTIWI MENSTRUASI

PERTIWI MENSTRUASI
(Analogi Tamu Bulanan Bangsa dan Wanita)

Petaindonesia Pada penciptaannya, Tuhan menjatuhkan sepotong tanah surga di dunia. Sampai-sampai, Koes Bersaudara yang kemudian menjadi Koes Plus dan akhirnya berganti jadi Plus Koes selalu menyanyikan jika tongkat kayu bisa menjadi tanaman di tanah itu. Kalau toh hujan, badai, gempa, tanah longsor, kekeringan dan sebagainya mendera, bukan berarti Tuhan sedang marah. Mana mungkin Tuhan marah. Yang sukanya marah-marah ‘kan para gadis yang akan dan lagi datang bulan, atau ibu-ibu yang akan mulai lagi tidak datang bulan. Benar juga kata orang, kalau bumi itu bergender perempuan (Ibu Pertiwi dan Mother Earth).

Seperti teman sebelah yang bangga pada bunga sakuranya, bumi tanah surga sedang mengalami sakit datang bulan (dilepen kata orang Jawa). Bedanya, negeri matahari terbit punya siklus menstruasi yang lancar dan mereka punya obat mujarab biar tidak kram. Gejala fisik kesakitan haid nusantara tidak jauh beda dengan yang dialami wanita. Gemetar sekian skala richter, kembung dan sedikit berasap, cairan deras berlebihan hingga bocor samping kiri-kanan atas-bawah, gerah dimana-mana, dan yang pasti bau tak sedap merebak. Gejala emosinya? Wah…jangan ditanya. Pokoknya sensi, parno dan bete abisssyyy kata anak gaul. Ngomong sedikit salah, gerak sedikit salah, pokoknya serba salah.
Memangnya ada obat buat kita yang lagi M? Lebih baik, sering-sering minum jamu, sebelum, selama dan sesudah penyakit itu datang. Janganlah minum obat pereda anti nyeri yang sifatnya cuma sementara dan bikin ketagihan. Apalagi minuman bersoda dan beralkohol produk tetangga sebelah. Kata nenek, nanti keluarnya bancar. Kalau sudah tidak terbendung, kita sendiri yang susah. Tutup sana, tutup sini biar tidak malu dan ketahuan. Ingat, adik-adik SMP yang pakai rok segelap apapun, tetap saja kalau bocor kelihatan. Jamunya sendiri, sudah dari dulu kita punya. Kita kaya akannya. Sampai-sampai, si Gajahmada bersumpah palapa (bukan serapah).
Palapa alias rempah-rempah adalah kekayaan tak tersadari kita. Wong kita dijajah gara-gara kita kaya rempah. Minum jamu inilah kita bisa sembuh dari sindrom datang bulan. Bulan pasti tersenyum karena datang tanpa halangan dan baunya segar harum wangi alam. Jika perlu, kita jualan jamu rempah-rempah pada tetangga. Jangan malah suka jualan surti, rumiatin, yasinem, dan martiah kepada mereka. Apalagi jualan Tiara Lestari dan Nadine Chandrawinata, wah….. bisa jadi tanah neraka.

16
May

Elang Jawa

Garuda2

GARU’DA

(Baca: Garuk Dah)

            Bukan, ini bukan nama maskapai ataupun merek kacang. Tapi dia adalah Garuda  yang konon berbulu 17 helai pada sayap kanan dan kiri, 8 di ekor dan 45 pada leher. Bulu-bulu ini rupanya berkurang seiring belaian para kekasih. Eits, siapa bilang banyak bulu lebih seksi. Justru semakin rontok semakin dicari. Untuk ukuran burung dengan usia yang lebih dari separuh abad, bulu rontok bukanlah masalah gravitasi. Penyebabnya justru karena banyaknya hormon yang memperbesar kelamin. Kekasih mana yang tidak tergoda dengan kebesaran ini. Sayangnya, rontok

sana

rontok sini juga bisa mengakibatkan penyakit. Gatal-gatal karena debu lah, kepanasan matahari lah dan juga jadi gampang masuk angin. Bagaimanapun juga si burung berkeyakinan kalau penyakit adalah ujian dari Sang Maha Pencipta.

            Di setiap fotonya, Elang Jawa ini selalu menoleh ke kanan. ‘Perfect Angle’, dia bilang pada tukang foto. Kenyataannya dia selalu menoleh kanan-kiri. Bukan waktu menyeberang jalan saja, tapi di manapun dia berada. Hal ini merupakan sikap waspadanya dalam mengendus calon pelanggan bisnis cinta. Dan selanjutnya adalah menyebarkan foto gagahnya, meceritakan (dan kadang menunjukkan) betapa besar barang antiknya, juga mengisahkan makna filosofis tato-tato bintang, banteng, rantai dan sebagainya. Segala daya upaya dilakukan asal hati senang. Tentu saja bedak gatal, sunblock, dan jamu tolak angin harus terus dikonsumsi. Meski tidak menyembuhkan, menyembunyikan adalah solusi tepat. Hasilnya, langganan terus bertambah dan selalu disegani bangsa Aves lainnya.

            Makin banyak langganan, makin banyak pemasukan. Tapi rasa-rasanya kekayaan berlalu begitu saja pada biaya penyembunyian. Yang dulunya hanya berupa gatal-gatal kini berubah menjadi borok besar dengan belatung-belatung sebagai penghuninya. Sunblock, tidak lagi menghalau sinar UV yang jatuh ke atas permukaan yang tidak pantas lagi disebut kulit. Masuk topan, masuk puting beliung, hingga masuk badai semakin menjadi-jadi. Parahnya, banyak pelanggan yang mulai menyadari jika kebesaran kelaminnya tidak bisa menjalankan kewajiban dengan benar. Setelah sekian lama, Garuda mulai sadar jika si penyakit harus diberantas.

            Untungnya masih ada beberapa pelanggan setia yang menawarkan berbagai terapi penyembuhan. Asal Garuda harus mau dikontrak eksklusif. Tidak perlu tanda sayap atau cap kuku segala. Apalagi kelamin tak berteknik itu. Apa manfaatnya bagi mereka. Sebenarnya Cuma satu yang mereka butuhkan agar penyakit Garuda bisa hilang. Mereka hanya minta perisai di dadanya.