Posts Tagged ‘bob

28
Sep

Ethnomu(sick)psychosis

Ethnomu(sick)psychosis

absolut psycho

absolut psycho

Kling, dang, kling, dang, kling, dang, kling, dang, kling, dang, kling, dang, kling dst. Gending braided horse alias kuda lumping (jaran kepang). Andai dipakai triping ala tradisional sambil bersulang air tape ketan hitam. Alih-alih melayang di awang-awang, justru hilang separuh kesadaran karena mual kekembungan. Sesloki, segelas, seliter, kapan maboknya ya? Tidak perlu dicampur losion anti nyamuk dan spirtus untuk benar-benar, secara harfiah, melayang. Cukup dituang ke dalam panci alumunium untuk menanak nasi satu liter, perangkat keras wajib anak-anak kos, alhasil: Biar lihat cewek hitam legam sekalipun, pasti jadi nafsu, seorang lelaki usia 17 tahun berkisah pada kekasih 16,5 tahun yang langsung ambil air wudlu sehabis dicium pertama kali di bibir oleh si pemuda.

Acara penembakan sang pemuda kepada si pemudi: Di kampung pemudi ada lapangan sepak bola yang cukup luas. Dulu bekas sawah, lantas jadi sengketa para ahli waris saat si tuan tanah mati kejatuhan langit-langit rumahnya. Desas- desus tanah lapang berhantu saling dihembuskan yang bersengketa. Apalagi di sudut dekat kali dijadikan pendusa, bukan pendosa tetapi tempat menaruh keranda dan kereta untuk orang mati. Kisah mistis dibaliknya menjadikan lokasi itu tepat sekali untuk menghelat pertunjukan kuda lumping atau jaran kepang. Baru empat bait kling dang kling dang kling satu, dua, semua pemain jaranan pada kesurupan. Ada yang memanjat kelapa, konon kerasukan arwah monyet.

…… , sunyi, tiba-tiba tidak ada lagi kling dang kling dang kling dang kling. Ternyata seluruh pemain musik ikut-ikutan kesurupan. Beberapa yang nonton juga mulai bertingkah, kerasukan. Tenang, masih ada para tetua yang bisa pencet kening, pencet mata kaki, pencet jempol. Katanya, arwah itu masuk lewat kuku jempol. Dan akhinya semua waras dan sadar, acara pun bubar. Pemuda mendekati pemudi: kamu mau jadi pacarku, ini nomer telpunku. Mulut pemuda bau alkohol. Pemudi senyum-senyum, teringat masa kecil. Ayah pemudi marah-marah: Bodoh kamu, disuruh Pak Anu beli minuman merk itu saja tidak mau. Harusnya kamu dikasih uang seribu. Jaman itu, uang seribu bisa membeli 4 liter minyak tanah. Dalam hati pemudi ingat kata guru agama: Jangan membantu orang yang berbuat maksiat, sama dosanya. Pemudi tidak membalas tembakan pemuda beraroma minuman keras. Meski demikian, saat hendak tidur pemudi menerawang mengingat kembali rasanya kejatuhan cinta monyet. Tapi kenapa monyetnya harus mabok, batinnya. Hiii, terlintas gambaran pemain kuda lumping yang kerasukan arwah monyet pemanjat pohon kelapa. Ditariknya selimut menutupi seluruh kaki, siapa tahu masih ada arwah monyet gentayangan mau menyelinap lewat jempolnya.

Kling dang kling dang kling dang kling dang kling, jadi musik paling romantis bagi pemudi. VCD lagu jaranan diputar berulang-ulang. Keesokan harinya, pemuda tidak muncul. Ah, orang mabok menyatakan cinta, pasti mabok (tidak serius, green –I love green better than red :p ), katanya pada diri sendiri. Hari ketiga, pemuda muncul, baunya wangi parfum TABAC. Hmm…, harum. Kamu kok tidak menelpunku, jawab dong, kata pemuda kalem. Ganteng, tidak bau aneh-aneh. Mau deh, pikir pemudi.

Kling dang kling dang kling dang kling dang kling,pemudi pergi ke wartel memberikan jawaban. Pemuda esok sorenya sudah di rumah pemudi dengan wangi TABAC. Hmmff, terlalu banyak sepertinya. Jadi seperti bau bedak pengantin Jawa. Setiap malam selama seminggu, ruang tamu rumah pemudi beraroma TABAC. Pemuda mengajak pemudi pergi kemping, sambil menyembunyikan seperti botol di balik baju hangatnya. Pemudi menolak, bukan karena sesuatu di balik baju, pemudi tidak hobi kemping. Dia belum bisa membedakan rasanya tidur di bawah langit atau langit-langit. Ditambah, kemping sama artinya dengan memakai kaos kaki berlapis-lapis. Di luar sana pasti lebih banyak arwah monyet berkeliaran yang ingin menyelinap ke dalam jempolnya hiiiii. Seminggu kemudian pemuda tak datang-datang. Sabtu siang, pemuda datang, tidak bau TABAC tapi bau anggur kolesom. Pemudi malu pada saudara-saudaranya. Pemuda datang menumpang ke kamar mandi: Aku tadi hampir tercebur waktu menimba, bibir sumurnya rendah sekali. Pemudi tambah malu, karena jaman minyak tanah 1 liter seribu harusnya tidak ada ada lagi sumur timba, paling tidak pakai pompa air atau PDAM.

Kling…… dang…… kling…… dang…… kling…… dang…… kling…… dang…… kling…… seperti melambat mengiringi suasana hati yang sedih. Sepucuk surat putus cinta datang dari pemuda buat pemudi. Pemuda merasa bersalah sudah mabok di depan keluarga pemudi, siang-siang lagi: Lebih baik kita sendiri-sendiri.  Pemudi membaui kertas surat, hmm… tidak bau sebenarnya, tapi dia berharap wangi TABAC. Pasti gara-gara sumur, pemudi agak ngawur, coba aku punya sanyo atau ledeng.

Treng tak treng treng tak tring treng tak treng, Time Will Tell Bob Marley and The Wailers mengalun merdu sekali. Minyak tanah sudah lima ribu, pemudi sudah punya pemuda baru yang menolak diberi oleh-oleh Absolut vodka, terpaksalah diminum sendiri sama pemudi. Jadinya, tidak seperti tidur di bawah langit atau langit-langit. Tubuh serasa lengket di kasur, itu saja. Tidak melayang-layang, berhalusinasi, atau bernafsu pada cewek hitam legam. Meski berkata tidak untuk minuman Swedia pemberian pemudi, aroma pemudanya yang sekarang kadang-kadang berbau red label, black label, transparent label, no label, false label, etc. Pemudi tidak masalah mau label apa saja, asal pemuda dapat boleh gratis. Minyak tanah sudah langka, tidak boleh berfoya-foya. Sementara itu, pemuda jaman kuda kepang pusing cari hutangan buat bayar sekolah anaknya. Pemuda masih ganteng dengan kulitnya yang kuning langsat. Istrinya juga cantik dengan jenis kulit yang hampir sama, lebih terang malah. Tapi, si anak hitam legam. Banyak tetangga kasak-kusuk:Terang saja hitam, lha wong bikinnya di sawah. Biasa, gosip berkembang karena setelah satu bulan akad nikah, jabang bayi sudah keluar. Tetapi pemudi jadi bersyukur tidak menuruti ajakan pemuda jaman kuda lumping dulu. Sebabnya, kata para tetangga tadi sel telur istri pemuda kuda lumping tidak sengaja terbuahi, waktu kemping.

Ping kem ping kem ping kem ping kem ping kem kem ping kem ping

trims atas inspirasi dari pemuda ISI yg tidak lulus Karawitan I gara-gara pegang kendang terbalik. (D’oh!).